PEKANBARU – Rencana Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, yang ingin mengubah Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Sudirman menjadi ikon kota mulai menuai kritik dari publik.
Alih-alih disambut penuh antusias, sebagian masyarakat justru menilai langkah tersebut terkesan terlalu dini dipublikasikan sebelum adanya realisasi konkret di lapangan.
Sejumlah warga menyoroti pola komunikasi pemerintah yang dianggap lebih menonjolkan narasi dibandingkan implementasi.
> “Kerjakan dulu, baru bicara. Jangan dibalik. Kalau belum jelas, jangan terlalu cepat dipublikasikan,” ujar salah seorang warga Pekanbaru yang enggan disebutkan namanya.
Sorotan publik bukan tanpa alasan. Hingga kini, rencana tersebut dinilai masih sebatas wacana tanpa kejelasan teknis, termasuk:
kepastian anggaran
timeline pengerjaan
hingga konsep detail yang akan diterapkan
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan lahirnya apa yang disebut masyarakat sebagai “narasi kosong”.
> “Jangan sampai ini hanya jadi pemberitaan besar, tapi ujungnya tidak terealisasi atau hasilnya tidak sesuai,” tambah warga lainnya.
Di sisi lain, masyarakat juga menilai konsep “ikonik” yang diusung pemerintah kota mulai kehilangan daya tarik jika tidak dibarengi dengan solusi nyata atas persoalan dasar kota.
Beberapa isu yang masih kerap dikeluhkan antara lain:
infrastruktur jalan yang belum merata
fasilitas umum yang kurang terawat
hingga layanan publik yang dinilai belum optimal
Dalam konteks ini, proyek estetika seperti JPO ikonik dianggap berpotensi tidak menjadi prioritas utama.
> “Kami tidak menolak pembangunan. Tapi yang dibutuhkan itu yang benar-benar terasa manfaatnya, bukan sekadar bagus dilihat atau viral di media sosial,” tegas seorang warga.
Pengamat kebijakan publik menilai, langkah pemerintah dalam membangun citra kota memang sah-sah saja. Namun, pendekatan tersebut harus diimbangi dengan konsistensi antara rencana dan realisasi.
Jika tidak, hal ini berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Dalam posisi sebagai kepala daerah, Agung Nugroho dinilai perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan rencana ke publik.
Transparansi dan eksekusi yang terukur menjadi kunci agar setiap program tidak hanya berhenti sebagai wacana.
Publik pun menyampaikan pesan sederhana namun tegas:
> “Buktikan dulu dengan kerja nyata di lapangan, baru bangun narasi di media.”
Jika tidak, setiap rencana dikhawatirkan hanya akan menjadi headline tanpa dampak nyata bagi masyarakat.
Catatan Redaksi:
Berita ini disusun berdasarkan respons dan pandangan publik terhadap wacana pembangunan JPO Sudirman sebagai ikon kota.
Tim Redaksi andalasterkini.com
#Pekanbaru #AgungNugroho #JPOSudirman #KritikPublik #Infrastruktur #KebijakanPublik
#Agung Nugroho